Bali adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia di mana kehidupan sehari-hari dan bakti keagamaan menyatu sepenuhnya. Anda akan melihat persembahan dari daun kelapa di ambang pintu rumah, dupa yang mengepul di depan toko, dan seluruh desa berhenti sejenak untuk upacara yang telah berlangsung selama berabad-abad. Wisatawan yang meluangkan beberapa menit untuk memahami adat setempat akan disambut hangat, dan hal paling praktis yang harus dilakukan dengan benar adalah aturan berpakaian di pura Bali.

Panduan ini membahas apa yang sebaiknya dikenakan di pura, bagaimana bersikap di sekitar persembahan yang ada di mana-mana di pulau ini, kepekaan budaya yang lebih luas di seluruh Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, sopan santun memotret, dan beberapa frasa Bahasa Indonesia yang sangat membantu. Tidak ada yang rumit, dan sedikit usaha akan mendatangkan banyak niat baik.

Etiket di Pura: Sarung, Selendang, dan Bahu Tertutup

Kuil Hindu di Bali (pura) adalah tempat persembahyangan yang masih aktif, bukan objek wisata, bahkan ketika berdiri di puncak tebing yang terkenal atau di tepi danau yang fotogenik. Untuk memasuki area pura, baik pria maupun wanita diharapkan berpakaian sopan, dan ada beberapa aturan yang tidak bisa ditawar.

Apa yang Perlu Anda Kenakan

  • Sarung (kamen): kain panjang yang dililitkan di pinggang dan menutupi kaki setidaknya hingga di bawah lutut, biasanya sampai mata kaki. Semua orang mengenakannya tanpa memandang jenis kelamin, bahkan di atas celana panjang.
  • Selendang (sabuk): pita kain yang lebih sempit yang diikatkan di pinggang di atas sarung. Secara simbolis, selendang memisahkan tubuh bagian atas yang “suci” dari tubuh bagian bawah. Di sebagian besar pura, ini benar-benar wajib, bukan sekadar hiasan.
  • Bahu tertutup: baju tanpa lengan dan bahu terbuka tidak pantas di area pura. Bawalah kaus atau kemeja tipis yang menutupi lengan atas.

Kabar baiknya, sebagian besar pura besar meminjamkan atau menyewakan sarung dan selendang di pintu masuk, sering kali sudah termasuk dalam harga tiket atau bisa didapat dengan uang jaminan atau donasi kecil. Di pura desa yang lebih kecil mungkin tidak ada apa-apa, jadi jika Anda berencana mengunjungi tempat-tempat yang jarang dikunjungi wisatawan, sebaiknya beli sarung sendiri di awal perjalanan. Harganya murah, dijual di mana-mana, dan bisa berfungsi ganda sebagai kain pantai, alas piknik, atau penutup kaki agar tidak lecet saat naik skuter.

Aturan Pura Lainnya yang Perlu Diingat

  • Perempuan yang sedang haid secara tradisional diminta untuk tidak memasuki area pura. Papan pengumuman di pintu masuk biasanya menyebutkan hal ini. Ini adalah keyakinan yang dipegang teguh dan berkaitan dengan kesucian ritual, bukan penghakiman, dan para pengunjung menaatinya dengan penuh hormat.
  • Jangan berdiri lebih tinggi daripada pendeta atau tempat suci saat upacara berlangsung. Jika orang-orang duduk untuk berdoa, jangan berdiri menjulang di atas mereka atau naik ke panggung yang ditinggikan demi berfoto.
  • Jangan pernah duduk dengan telapak kaki menghadap ke tempat suci atau ke orang lain. Lipat kaki Anda ke belakang.
  • Jangan menyentuh kepala orang lain — dalam kepercayaan Bali (dan Indonesia secara lebih luas), kepala adalah bagian tubuh yang paling suci.
  • Melangkahlah melewati ambang pintu, jangan menginjaknya. Banyak gerbang pura memiliki dasar yang ditinggikan; perlakukan dengan hati-hati.

Pura terkenal seperti Tanah Lot, Uluwatu (Pura Luhur Uluwatu), Besakih (“Pura Induk” di lereng Gunung Agung), dan Ulun Danu Beratan semuanya menerapkan standar berpakaian. Uluwatu menambahkan tantangan kedua — monyet ekor panjang yang tinggal di sana terkenal suka merebut kacamata hitam, topi, dan ponsel, jadi simpan barang-barang lepas dalam tas yang diresleting. Untuk ulasan lebih lengkap tentang tempat mana saja yang layak dikunjungi, lihat panduan wisata Bali kami.

Persembahan Harian (Canang Sari): Jangan Diinjak

Berjalanlah di jalan, trotoar, atau pintu masuk toko mana pun di Bali dan Anda akan melihat nampan kecil berbentuk persegi yang dianyam dari daun kelapa atau daun pisang, berisi bunga, beberapa butir beras, sepotong kerupuk atau kue manis, dan sebatang dupa yang mengepulkan asap. Inilah canang sari, persembahan harian yang diletakkan oleh umat Hindu Bali sebagai wujud rasa syukur dan keseimbangan, terkadang beberapa kali sehari.

Bagi wisatawan, etiketnya sederhana tetapi penting:

  • Jangan injak persembahan. Persembahan ada di tanah, di ambang pintu, di dasbor mobil, di tembok pantai, dan di sudut jalan yang ramai — perhatikan langkah Anda, terutama di gang-gang sempit Ubud dan Canggu.
  • Tidak apa-apa jika Anda tanpa sengaja menyenggol salah satunya. Setelah persembahan diletakkan dan didoakan, tujuan spiritualnya sebagian besar sudah terpenuhi, dan warga setempat memahami bahwa trotoar yang ramai membuat orang sesekali salah melangkah. Cukup hindari sebisa mungkin.
  • Jangan mengambil atau memindahkan persembahan demi foto. Silakan potret di tempatnya, tetapi biarkan tidak terganggu.
  • Hati-hati dengan dupa. Dupa yang menyala dapat menghanguskan sandal jepit atau jari kaki telanjang jika Anda langsung menginjaknya.

Anda juga akan menjumpai persembahan upacara yang lebih besar, susunan buah yang menjulang tinggi (gebogan) yang dijunjung di atas kepala para perempuan, dan prosesi besar yang menutup jalan. Ketika upacara atau prosesi lewat, tindakan yang sopan adalah memperlambat laju, menunggu, dan membiarkannya lewat — jangan pernah membunyikan klakson atau menerobos.

Kepekaan Agama dan Budaya di Negara Mayoritas Muslim

Mudah sekali berasumsi bahwa “Indonesia sama dengan Bali”, tetapi sebenarnya Bali adalah pulau Hindu di dalam negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Begitu Anda bepergian ke Jawa, Lombok, atau sebagian besar daerah lain, latar budayanya berubah, dan wisatawan yang menghormati akan menyesuaikan diri.

Berpakaian dan Berperilaku di Luar Bali

  • Berpakaianlah lebih sopan di luar jalur wisata. Pakaian pantai tidak masalah di Seminyak atau Canggu, tetapi di kota kecil, pasar, masjid, dan daerah pedesaan, tutupi bahu dan lutut. Hal ini lebih penting lagi di daerah konservatif seperti Aceh.
  • Mengunjungi masjid: lepaskan sepatu, berpakaianlah sopan, dan perempuan sebaiknya menutupi rambut dengan kerudung. Masjid-masjid besar sering menyediakan jubah bagi pengunjung.
  • Selama Ramadan, banyak umat Muslim berpuasa dari fajar hingga senja. Makan, minum, atau merokok secara mencolok di depan umum pada siang hari dianggap tidak sopan di daerah yang lebih taat.
  • Gunakan tangan kanan untuk memberi, menerima, makan, dan berjabat tangan. Tangan kiri secara tradisional dianggap tidak bersih di seluruh Indonesia.
  • Menunjukkan kemesraan di depan umum sebaiknya dilakukan secara tidak mencolok, dan mabuk secara terang-terangan dipandang tidak baik di luar kawasan pesta.

Orang Indonesia di seluruh nusantara pada umumnya terkenal ramah dan memaafkan kesalahan yang tidak disengaja. Niat untuk bersikap hormat lebih penting daripada menyempurnakan setiap detail. Jika Anda berencana menggabungkan Bali dengan kunjungan ke candi di Jawa Tengah atau daerah lain, sedikit mempelajari norma setempat akan sangat bermanfaat, dan ulasan kami tentang tempat menginap di Bali dapat membantu Anda memilih kawasan yang sesuai dengan seberapa dalam Anda ingin berbaur.

Sopan Santun Memotret dan Menghormati Upacara

Bali sangat fotogenik di setiap sudutnya, dan warga setempat sebagian besar sudah terbiasa dengan kamera — tetapi beberapa tata krama membedakan pengunjung yang penuh perhatian dari yang mengganggu.

  • Mintalah izin sebelum memotret orang, terutama pendeta, orang yang sedang berdoa, atau orang yang mengenakan pakaian upacara. Senyuman dan isyarat ke arah kamera biasanya sudah cukup; kebanyakan orang dengan senang hati setuju.
  • Jangan menggunakan lampu kilat atau menghalangi jalan saat upacara. Jaga jarak yang hormat, berdirilah di samping, dan jangan pernah memanjat tempat suci atau menghalangi jalur prosesi demi satu foto.
  • Bersikaplah tidak mencolok saat pemakaman dan kremasi (ngaben). Terkadang upacara ini terbuka bagi penonton yang menghormati, tetapi pertama-tama ini adalah acara keluarga yang khidmat dan sama sekali bukan tontonan. Ikuti arahan pemandu Anda.
  • Drone dibatasi di sekitar banyak pura dan upacara — periksa aturan setempat sebelum menerbangkannya, karena penindakan dan tingkat kepekaannya berbeda-beda.
  • Hindari “pose di pura” yang tidak sopan. Memanjat pohon beringin yang sakral atau berpose provokatif di tempat suci telah menyebabkan ketersinggungan yang nyata, bahkan masalah hukum bagi wisatawan.

Saat Anda mengabadikan sesuatu yang istimewa, koneksi internet yang aktif memudahkan Anda memeriksa aturan lokasi, menemukan pintu masuk yang tepat, atau mencari tahu makna sebuah pura saat itu juga. Paket eSIM Indonesia menjaga peta, terjemahan, dan jadwal upacara tetap ada di saku Anda tanpa perlu mencari WiFi kafe di antara desa-desa.

Frasa Bahasa Indonesia yang Berguna

Bahasa Inggris dipahami secara luas di kawasan wisata Bali, tetapi bahkan beberapa kata Bahasa Indonesia (bahasa nasional) saja bisa mendatangkan senyuman tulus dan perlakuan yang lebih baik. Perlu diingat bahwa Bali juga memiliki bahasa Bali sendiri, tetapi Bahasa Indonesia dipahami di mana-mana.

  • Selamat pagi — Salam pagi hari
  • Selamat siang / sore — Salam siang / salam sore
  • Terima kasih — Ucapan terima kasih (balasan: sama-sama, dengan senang hati)
  • Tolong — Mohon / Mohon bantuan
  • Permisi — Maaf mengganggu (saat lewat atau masuk)
  • Maaf — Minta maaf
  • Ya / Tidak — Jawaban “ya” / “tidak”
  • Berapa harganya? — Berapa harga barang ini? (berguna di pasar)
  • Enak — Lezat (pujian yang pasti disukai di warung)
  • Apa kabar? — Bagaimana kabar Anda? (balasan: baik, sehat)

Sapaan hangat sebelum mengajukan pertanyaan, alih-alih langsung berbicara dalam bahasa Inggris, adalah cara termudah untuk meraih simpati budaya di pulau ini. Jika perjalanan Anda bertepatan dengan perayaan besar, menyegarkan kembali ucapan hari raya yang tepat juga layak dilakukan — lihat panduan kami tentang festival Indonesia dan Nyepi, Hari Keheningan ketika seluruh pulau, termasuk bandara, berhenti beroperasi.

Menyatukan Semuanya

Bepergian dengan penuh hormat di Bali pada dasarnya cukup dengan daftar periksa singkat: bawa sarung dan selendang, tutupi bahu di pura, perhatikan langkah di sekitar persembahan, minta izin sebelum memotret orang, dan awali dengan senyuman serta sedikit Bahasa Indonesia. Lakukan itu, dan pulau ini akan membuka diri dengan cara yang tidak pernah ia lakukan bagi pengunjung yang hanya menganggapnya sebagai latar belakang.

Beberapa tata krama ini — memeriksa ketentuan berpakaian, menemukan pintu masuk pura, menerjemahkan papan tanda, memastikan apakah upacara terbuka bagi pengunjung — jauh lebih mudah dengan paket data di tangan. Tetap terhubung di Indonesia berarti Anda bisa menjadi tamu yang penuh perhatian secara langsung, mencari tahu sebelum bertindak alih-alih menebak-nebak, sehingga Anda menghabiskan perjalanan dengan menghormati budaya Bali, bukan tanpa sengaja menyinggungnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa aturan berpakaian untuk pura di Bali?

Baik pria maupun wanita wajib mengenakan sarung (kain yang dililitkan di pinggang untuk menutupi kaki) dan selendang yang diikatkan di pinggang, dengan bahu tertutup. Sebagian besar pura besar seperti Tanah Lot, Uluwatu, dan Besakih meminjamkan atau menyewakan sarung dan selendang di pintu masuk, sering kali sudah termasuk dalam harga tiket atau dengan donasi kecil.

Apakah saya perlu membawa sarung sendiri untuk mengunjungi pura di Bali?

Biasanya tidak perlu di pura besar karena mereka menyediakannya, tetapi sebaiknya beli sendiri di awal perjalanan Anda. Sarung murah dan dijual di mana-mana, dan pura desa yang lebih kecil mungkin tidak memiliki sarung untuk dipinjamkan. Sarung juga bisa berfungsi ganda sebagai kain pantai dan penutup dari terik matahari.

Apa itu persembahan canang sari yang ada di tanah di Bali?

Canang sari adalah nampan kecil dari daun kelapa berisi bunga, beras, dan dupa yang diletakkan setiap hari oleh umat Hindu Bali sebagai persembahan rasa syukur. Anda akan melihatnya di ambang pintu, trotoar, dan tempat suci. Usahakan jangan menginjaknya, jangan memindahkannya demi foto, dan waspadai dupa yang menyala.

Bolehkah perempuan mengunjungi pura di Bali saat sedang haid?

Secara tradisional, perempuan yang sedang haid diminta untuk tidak memasuki area pura, dan papan pengumuman di pintu masuk biasanya menyebutkan hal ini. Hal ini berkaitan dengan keyakinan masyarakat Bali tentang kesucian ritual, bukan penghakiman, dan pengunjung diharapkan menghormatinya.

Apakah tidak sopan memotret saat upacara di Bali?

Memotret umumnya boleh, tetapi mintalah izin sebelum memotret pendeta atau orang yang sedang berdoa, jaga jarak yang hormat, hindari lampu kilat, dan jangan pernah menghalangi atau memanjat tempat suci saat upacara berlangsung. Pada acara khidmat seperti kremasi, bersikaplah tidak mencolok dan ikuti arahan pemandu Anda.

Langsung online begitu tiba di Indonesia

eSIM Indonesia mulai $0.90 · Kode QR lewat email · Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Smartfren

Lihat paket eSIM Indonesia